Selasa, 15 Maret 2016

Thing dan Think

Akhirnya bel pulang berbunyi. Ini berarti pembebasan dari pelajaran membosankan bernama IPA dengan guru yang terlalu menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan Profesor Binns yang ada dalam buku Harry Potter, yang dapat membuatmu tertidur dalam lima menit setelah mendengar suaranya.
Aku bergegas membereskan barang-barangku dan memasukkan semuanya ke dalam tasku secara asal-asalan. Aku ingin cepat pulang. Aku sudah membayangkan diriku diatas kasurku tercinta sambil menghabiskan novel yang baru kupinjam. Tapi, ketika baru saja aku melewati ambang pintu kelas, suara Reza menghancurkan segalanya.
“Mau kemana?” tanya Reza kepadaku.
“Mau pulanglah.”
“Pulangnya nanti, eskul dulu.” kata Reza.
Aku lupa, hari ini aku ada eskul. Meskipun aku sudah terbilang senior, aku tetap wajib menghadiri eskul. Oleh karena itu, semua bayanganku tentang kasur, novel, dan bahkan milktea yang baru saja mau aku bayangkan ikut hilang seiring ucapan Reza. Sialan, gagal semua, rutukku dalam hati. Dengan terpaksa aku mengikuti langkah Reza menuju kelas yang biasa kami gunakan untuk eskul.
Dalam perjalanan aku baru ingat kalau aku mengikuti eskul, berarti aku akan bertemu dia. Dia, orang yang diam-diam kusukai. Dengan bersemangat aku menarik tangan Reza agar cepat sampai ke kelas yang kami tuju. Setelah bersusah payah menggeret Reza agar mau berjalan lebih cepat, akhirnya kami sampai juga.
“Assalamu’alaikum.” ucapku dan Reza hampir berbarengan.
“Wa’alaikum salam.” jawab anggota eskul lainnya serempak.
Ternyata hampir seluruh anggota eskul telah hadir. Aku duduk lesehan di bagian depan kelas bersama teman-teman seangkatanku sedangkan Reza membuka kegiatan hari ini, maklum dia ketua disini. Aku perhatikan, dia belum datang. Aku pun menunggu sambil setengah mendengarkan materi yang diberikan teman-temanku dari Komisi A untuk para adik kelas.
Dalam eskul kami Komisi A bertugas untuk menyampaikan materi kepada anggota yang lainnya. Aku sendiri termasuk Komisi D yang bertanggung jawab dalam kegiatan bakti sosial. Aku bahkan menjabat sebagai Koordinator Komisi D.
Setelah setengah jam eskul berlangsung, terdengar ketukan di pintu. Sebelum ada yang membukanya, pintu itu sudah terbuka sendiri dan wajah tersenyumnya muncul.
“Assalamu’alaikum. Maaf telat.” katanya sambil membawa minuman di tangan kanannya.
Kujawab salamnya dengan suara lirih. Dia duduk disamping kananku yang kebetulan kosong. Betapa beruntungnya aku hari ini. Disana dia menenggak minumannya banyak-banyak. Meskipun peraturan eskul ini dilarang makan atau minum selama eskul berlangsung, dengan cuek dia melanggar peraturan yang satu itu. Tapi, toh tidak ada yang peduli dengan kelakuannya yang satu ini.
Aku mencoba menyapanya dan mengajaknya mengobrol. Akhirnya kami terlibat dalam obrolan kecil yang cukup seru. Awalnya, topik pembicaraan kami seputar kegiatan Mabit yang baru eskul kami selenggarakan minggu kemarin. Tapi, entah mengapa topik pembicaraan kami malah merembet  ke bahasa inggris.
Menurutku dia pintar dalam bahasa inggris dan aku sangat menyukai pelajaran bahasa inggris. Jadi pembicaraan kami kali ini cukup nyambung. Kami sedang membicarakan dua kata yang berbeda arti, tetapi dalam pengucapannya memiliki bunyi yang mirip. Aku pun teringat pertanyaan yang sudah kutanyakan kepada banyak orang tapi masih belum aku pahami.
“Bagaimana cara mengucapkan ‘thing’ benda dengan ‘think’ berpikir?” tanyaku padanya.
“Kalau yang benda ‘thing’. Kalau yang berpikir ‘think’.” jawabnya setengah benar setengah sok tahu.
Tapi meskipun kalian tidak bisa mendengarkan suaranya, dia menyebutkan dua kata itu dengan perbedaan yang cukup jelas. Tapi aku tetap keukeuh mengatakan apa yang disebutkannya sama untuk memperpanjang pembicaraan.
“Tapi kedengarannya tetap sama.” ucapku keukeuh.
“Beda tahu!” katanya jengkel.
******
Bahkan ketika aku menulis ini aku masih bisa mendengar suaranya yang menyebutkan dua kata itu di telingaku. Aku masih ingat betul binar matanya dan raut wajahnya saat itu, meskipun kejadian itu sudah terjadi 6 bulan yang lalu. Dan sampai saat ini aku selalu merinding ketika mendengar orang lain menyebutkan ‘thing’ dan ‘think’. Karena itu membuat aku mengingat kejadian ini lagi dan lagi.

Tasikmalaya, Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar