Kamis, 31 Maret 2016

Pukis

Ini adalah ceritaku ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Saat itu, aku bersekolah di salah satu sekolah swasta ‘Full Day School’ yang cukup terkenal. Mungkin, karena durasi kami berada di sekolah lebih lama daripada sekolah lain, hubungan antarteman kami semakin dekat. Terutama kelasku waktu itu. Kami menobatkan diri kami sendiri sebagai kelas paling kompak di angkatan 12.
Terkadang, aku rindu masa-masa kecilku di sekolah ini. Aku rindu pada guru-guru yang begitu perhatian pada kami. Rindu teman-temanku. Aku juga rindu pada cinta pertamaku, Faisal. Karena di sekolah inilah aku bertemu dengannya.
Karena saking kompaknya kelas kami, kami tidak malu untuk bermain bersama lawan jenis. Tidak seperti kelas lain, yang terkadang menyapa lawan jenisnya saja tidak mau. Oleh karena itu, kelasku sering kali membuat permainan yang bisa dimainkan oleh seluruh anak kelas yang berjumlah 36 orang.
Seperti waktu itu, ketika waktu istirahat tiba, seluruh anak kelas bermain Ucing Sumput, atau setidaknya itulah sebutan permainannya di daerahku. Sepertinya permainan ini lebih dikenal dengan nama Petak Umpet.
Cara bermainnya mudah. Awalnya, kami hompimpa untuk menentukan siapa yang akan menjadi penjaga. Bila sudah ditemukan, orang itu akan menghadap ke dinding sambil menutup matanya, lalu berhitung dengan suara yang keras sesuai dengan hitungan yang sudah ditentukan. Selagi Si Penjaga tersebut berhitung, pemain lain bersembunyi. Setelah hitungan habis, Si Penjaga diharuskan untuk menemukan semua pemain.
Bila ia berhasil menemukan seluruh pemain, maka orang yang pertama kali ia temukan akan menggantikan posisinya menjadi penjaga. Sebaliknya, bila ia tidak berhasil menemukan seluruh pemain ia harus menjadi penjaga lagi sampai seluruh pemain ditemukannya. Kurang lebih permainannya seperti itu.
Setengah jam berlalu, waktu istirahat sudah selesai. Meskipun guru yang akan mengajar pelajaran selanjutnya tidak akan masuk karena sakit, kami tetap menghentikan permainan karena cacing-cacing di dalam perut kami sudah berdemo meminta makanan. Hampir seluruh anak pergi ke kantin, dan hanya menyisakan beberapa anak saja. Termasuk aku dan Faisal. Aku tidak pergi ke kantin karena aku membawa bekal roti bakar. Mungkin dia juga membawa bekal?
“Kenapa nggak jajan? Bawa bekal ya?” tanyaku sambil menghampirinya.
“Iya, nih.” jawabnya sambil mengeluarkan bekalnya yang berupa beberapa snack bungkusan dan dua buah kue pukis.
“Wow, pukis!” teriakku keceplosan.
Meskipun mulutku sudah penuh dengan roti bakar, tetap saja aku tertarik pada pukis itu.Aku memang menyukai jajanan pasar. Termasuk pukis di dalamnya. Tapi bisa tidak sih aku tidak berteriak?
“Mau? Nih.” katanya sambil menyodorkan sebuah pukis ke tanganku.
“Setengah aja deh.” jawabku bimbang sambil membagi dua pukis itu dan mengembalikan setengahnya kepada pemilik asalnya.
Aku mengahabiskan pukis itu dalam sekejap. Rasa pukisnya enak. Meskipun seluruh makanan yang pernah kucoba memang enak semua, kecuali jengkol dan petai. Pukisnya yang lembut ditambah dengan keju di atasnya, membuatnya tambah nikmat. Entah memang rasa pukis itu nikmat atau faktor karena yang memberinya adalah orang yang spesial.
Mulai saat itu pukis menjadi salah satu jajanan pasar yang menjadi favoritku. Meskipun belum bisa menggeser posisi Onde-onde yang berada di posisi pertama.
Tak lama, setelah semuanya selesai menghabiskan makanan masing-masing, kami semua setuju untuk melanjutkan permainan. Saat kami sedang hompimpa, aku berada di samping Faisal.
“Pukisnya enak.” bisikku padanya.
“Mau lagi?” tawarnya.
“Emang masih ada?” aku tidak mungkin menolak tawaran makan apalagi makanan itu dari Faisal.
“Tuh, masih ada di kolong bangku. Kalau mau ambil aja. Belum dimakan, kok.” katanya sambil menunjuk bangkunya.
Sebelum aku mulai mencari tempat persembunyian, aku mendatangi mejanya Faisal.
“Pukisnya aku ambil, ya?” ujarku meminta izin.
“Sip!” kata Faisal sambil mengacungkan ibu jarinya dan berlari keluar kelas untuk bersembunyi.
Pukisnya memang masih utuh, masih satu setengah kue. Aku segera mengambilnya dan segera menyusul Faisal keluar kelas. Aku bersembunyi dibalik rak sepatu sambil menghabiskan pukis yang diberikan oleh Faisal.
Itu adalah pukis terenak di seluruh dunia.
******
Saat itu aku memang tidak tahu malu. Bisa-bisanya aku meminta bekal orang yang kusukai dua kali berturut-turut.  Tapi, sejak saat itu ketika aku sedang memakan pukis biasanya aku akan senyum-senyum sendiri karena mengingat cerita ini. Sekarang, setelah menulis cerita ini, aku benar-benar rindu pada Faisal!

Tasikmalaya, Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar