Ini adalah ceritaku ketika aku masih duduk di kelas
4 SD. Saat itu, aku bersekolah di salah satu sekolah swasta ‘Full Day School’
yang cukup terkenal. Mungkin, karena durasi kami berada di sekolah lebih lama
daripada sekolah lain, hubungan antarteman kami semakin dekat. Terutama kelasku
waktu itu. Kami menobatkan diri kami sendiri sebagai kelas paling kompak di
angkatan 12.
Terkadang, aku rindu masa-masa kecilku di sekolah
ini. Aku rindu pada guru-guru yang begitu perhatian pada kami. Rindu
teman-temanku. Aku juga rindu pada cinta pertamaku, Faisal. Karena di sekolah
inilah aku bertemu dengannya.
Karena saking kompaknya kelas kami, kami tidak malu
untuk bermain bersama lawan jenis. Tidak seperti kelas lain, yang terkadang
menyapa lawan jenisnya saja tidak mau. Oleh karena itu, kelasku sering kali
membuat permainan yang bisa dimainkan oleh seluruh anak kelas yang berjumlah 36
orang.
Seperti waktu itu, ketika waktu istirahat tiba, seluruh
anak kelas bermain Ucing Sumput, atau setidaknya itulah sebutan permainannya di
daerahku. Sepertinya permainan ini lebih dikenal dengan nama Petak Umpet.
Cara bermainnya mudah. Awalnya, kami hompimpa untuk
menentukan siapa yang akan menjadi penjaga. Bila sudah ditemukan, orang itu
akan menghadap ke dinding sambil menutup matanya, lalu berhitung dengan suara
yang keras sesuai dengan hitungan yang sudah ditentukan. Selagi Si Penjaga tersebut
berhitung, pemain lain bersembunyi. Setelah hitungan habis, Si Penjaga
diharuskan untuk menemukan semua pemain.
Bila ia berhasil menemukan seluruh pemain, maka
orang yang pertama kali ia temukan akan menggantikan posisinya menjadi penjaga.
Sebaliknya, bila ia tidak berhasil menemukan seluruh pemain ia harus menjadi penjaga
lagi sampai seluruh pemain ditemukannya. Kurang lebih permainannya seperti itu.
Setengah jam berlalu, waktu istirahat sudah selesai.
Meskipun guru yang akan mengajar pelajaran selanjutnya tidak akan masuk karena
sakit, kami tetap menghentikan permainan karena cacing-cacing di dalam perut
kami sudah berdemo meminta makanan. Hampir seluruh anak pergi ke kantin, dan
hanya menyisakan beberapa anak saja. Termasuk aku dan Faisal. Aku tidak pergi
ke kantin karena aku membawa bekal roti bakar. Mungkin dia juga membawa bekal?
“Kenapa nggak jajan? Bawa bekal ya?” tanyaku sambil
menghampirinya.
“Iya, nih.” jawabnya sambil mengeluarkan bekalnya
yang berupa beberapa snack bungkusan dan dua buah kue pukis.
“Wow, pukis!” teriakku keceplosan.
Meskipun mulutku sudah penuh dengan roti bakar,
tetap saja aku tertarik pada pukis itu.Aku memang menyukai jajanan pasar.
Termasuk pukis di dalamnya. Tapi bisa tidak sih aku tidak berteriak?
“Mau? Nih.” katanya sambil menyodorkan sebuah pukis
ke tanganku.
“Setengah aja deh.” jawabku bimbang sambil membagi
dua pukis itu dan mengembalikan setengahnya kepada pemilik asalnya.
Aku mengahabiskan pukis itu dalam sekejap. Rasa
pukisnya enak. Meskipun seluruh makanan yang pernah kucoba memang enak semua,
kecuali jengkol dan petai. Pukisnya yang lembut ditambah dengan keju di
atasnya, membuatnya tambah nikmat. Entah memang rasa pukis itu nikmat atau
faktor karena yang memberinya adalah orang yang spesial.
Mulai saat itu pukis menjadi salah satu jajanan
pasar yang menjadi favoritku. Meskipun belum bisa menggeser posisi Onde-onde
yang berada di posisi pertama.
Tak lama, setelah semuanya selesai menghabiskan
makanan masing-masing, kami semua setuju untuk melanjutkan permainan. Saat kami
sedang hompimpa, aku berada di samping Faisal.
“Pukisnya enak.” bisikku padanya.
“Mau lagi?” tawarnya.
“Emang masih ada?” aku tidak mungkin menolak tawaran
makan apalagi makanan itu dari Faisal.
“Tuh, masih ada di kolong bangku. Kalau mau ambil
aja. Belum dimakan, kok.” katanya sambil menunjuk bangkunya.
Sebelum aku mulai mencari tempat persembunyian, aku
mendatangi mejanya Faisal.
“Pukisnya aku ambil, ya?” ujarku meminta izin.
“Sip!” kata Faisal sambil mengacungkan ibu jarinya
dan berlari keluar kelas untuk bersembunyi.
Pukisnya memang masih utuh, masih satu setengah kue.
Aku segera mengambilnya dan segera menyusul Faisal keluar kelas. Aku
bersembunyi dibalik rak sepatu sambil menghabiskan pukis yang diberikan oleh
Faisal.
Itu adalah pukis terenak di seluruh dunia.
******
Saat itu aku memang tidak tahu malu. Bisa-bisanya
aku meminta bekal orang yang kusukai dua kali berturut-turut. Tapi, sejak saat itu ketika aku sedang
memakan pukis biasanya aku akan senyum-senyum sendiri karena mengingat cerita
ini. Sekarang, setelah menulis cerita ini, aku benar-benar rindu pada Faisal!
Tasikmalaya, Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar