Waktu itu, kira-kira aku masih berumur 4-6 tahun. Saat
itu adalah saat dimana aku suka sekali dengan yang namanya jajan. Pas sekali,
saat itu juga ada sebuah warung yang baru buka di dekat rumahku. Meskipun ayahku
juga memiliki warung, tetap saja aku selalu hobi jajan ke warung orang lain. Warung
baru itu menjual es krim. Karena ayahku tidak menjual es krim, aku pun meminta
uang kepada ibuku. Aku bermaksud membeli salah satu es krim di warung itu.
“Ma, minta uang. Aku pingin
beli es krim.” kataku sembari menyodorkan tangan dengan telapak tangan
menghadap ke atas, nyuwun.
Ibuku mengambil
dompetnya dan memberiku selembar uang seribu rupiah.
“Bilang ke Aa* nya, beli
es krim yang harga seribu.” nasehat ibuku karena saat itu aku masih belum
mengerti nominal uang.
Aku pun berlari dengan
bersemangat ke warung itu sambil menggenggam uang seribu itu.
“A, beli es krim yang
harganya seribu” seruku sambil menyodorkan uang seribu itu,
“Es krimnya nggak ada yang seribu, de. Adanya juga
yang sembilan ratus.” jawab si Aa penjaga warung.
Dengan kecewa, aku pun
berjalan ke rumah dengan langkah gontai. Ketika di rumah, aku bercerita kepada
ibuku perihal es krim yang seharga sembilan ratus rupiah itu. Mendengarnya,
ibuku hanya tertawa.
“Kenapa nggak beli yang itu aja? Kan uangnya
cukup, kembalian seratus malah.” seru ibuku disela tawanya.
Dengan semangat yang
kembali membara, aku berlari lagi ke warung itu.
“A, beli krim yang
tadi!” seruku ketika sampai untuk kedua kalinya di warung itu.
Si Aa pun memberikan es
krim tersebut. Dengan senang aku melahap es krim itu sampai tersisa stiknya.
******
Ketika aku berumur 11
tahun, aku membeli es krim di sekolahku. Berhubung aku hanya memiliki uang tiga
ribu rupiah, aku pun memberanikan diri bertanya pada bapak penjual es krim.
“Pak, ada es krim yang
tiga ribu nggak?” tanyaku.
“Kalo yang tiga ribu mah nggak
ada neng**. Ada nya juga yang dua ribu.” jawab si bapak.
“Ya udah pak, nggak apa-apa, yang dua ribu aja.”
Si bapak menyodorkan
sebuah es krim ‘petit’. Aku pun membayar es krim itu. Ketika melihat
bungkusnya, aku pun menyadari es krim itu adalah es krim yang aku beli waktu
kecil seharga sembilan ratus. Akupun menyadari betapa bodohnya aku dulu. Aku bingung
kenapa dulu aku pulang ke rumah tanpa es krim dengan alasan ‘aku membeli es
krim dengan harga SEMBILAN RATUS RUPIAH
sedangkan aku memiliki uang SERIBU RUPIAH’. Aku pun tertawa sendiri mengingat
kejadian itu.
Ketika temanku bertanya
kenapa aku tertawa sendirian. Aku pun menceritakan kejadian itu. Tenyata,
temanku malah tertawa lebih keras dibandingkan aku ketika mendengar
kebodohanku.
******
*Aa: panggilan untuk
kakak laki-laki atau untuk laki-laki yang lebih tua, kalau di Jawa disebut mas.
*Neng : panggilan untuk perempuan yang umurnya lebih
tua, kalau di Jawa disebut Nduk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar